Memanusiakan Stereotipe Orang Tionghoa di Indonesia

Judul di atas bisa mengilmplikasikan dua asumsi yang bertentangan. Pertama, ia bisa dianggap mengasumsikan bahwa orang Tionghoa selama ini tidak manusiawi sehingga perlu dimanusiawikan. Kedua, judul itu bisa juga dipandang mengandung asumsi bahwa orang Tionghoa sebenanya manusia, tetapi selama ini diperlakukan secara tidak manusiawi sehingga perlu adalah perlakuan yang lebih pantas dan sesuai dengan kebenaran dirinya sebagai manusia itu. Karena jelas orang Tionghoa bukan benda dan bukan binatang, tentu saja yang diimplikasikan oleh judul di atas adalah asumsi yang kedua, yaitu bahwa pada dasarnya orang Tionghoa di Indonesia adalah manusia seperti manusia-manusia yang lain juga, tetapi cenderung diperlakukan secara tidak manusiawi sehingga perlu ada perubahan perlakuan oleh siapa saja terhadapnya.

Asumsi itu tentu tidak ditetapkan semaunya, melainkan didasarkan pada kecenderungan-kecenderungan yang relatif kuat dalam kenyataan empiris. Sebagaimana yang sudah menjadi pengetahuan umum, orang-orang Tionghoa hampir selalu menjadi sasaran amuk massa dalam setiap kerusuhan atau pergolakan ekonomi, politik, maupun sosial walaupun pergolakan atau kerusuhan itu tidak berkaitan langsung ataupun tidak langsung dengan persoalan orang-orang Tionghoa itu sendiri.

Tentu banyak kemungkinan sebab dan penjelasan mengenai kecenderungan yang demikian. Yang menggunakan perspektif ekonomi akan menempatkan penyebabnya pada kesenjangan ekonomi antara kelompok masyarakat pribumi dengan kelompok masyarakat tionghoa. Yang menggunakan perspektif sosial akan menjelaskannya dalam antara lain angapan bahwa orang-orang Tionghoa merupakan kelompok sosial yang eksklusif. Yang menggunakan perspektif politik akan mencari-cari semacam “kambing hitam” yang dianggap sebagai dalang atau penghasut dari kerusuhan dan tindak kekerasan terhadap orang Tionghoa tersebut.

Namun, ada satu kemungkinan sebab yang hampir tidak pernah dilihat dan dibicarakan dalam setiap perbincangan tentang faktor-faktor yang mengakibatkan tindak kekerasan di atas, yaitu sebab yang lebih bersifat kultural, khususnya yang menyangkut penempatan orang Tionghoa dalam kosmologi atau peta kognitif kelompok-kelompok sosial yang lain yang ada di Indonesia. Termasuk makhluk apa dan bagaimanakah orang-orang Tionghoa itu dalam persepsi mereka?

 

***

Untuk menjawab pertanyaan di atas, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan melihat kembali streotipe orang Tionghoa di Indonesia. Tentu dalam hal ini orang Tionghoa akan pertama-tama dan terutama dipersepsi sebagai orang dagang, orang-orang yang tinggal di dalam dan di sekitar pasar, orang-orang yang menjadi pemilik, penghuni, dan penjaga toko-toko, orang-orang yang keluar-masuk desa untuk menjajakan barang-barang kebutuhan non-pertanian masyarakat desa dan sekaligus menjadi pembeli barang-barang-barang pertanian mereka.

Dipersepsi sebagai orang dagang seperti itu, orang Tionghoa cenderung diidentikkan dengan duit. Hidup dan mati mereka semata-mata untuk duit. Mereka adalah orang-orang yang duduk di toko, berkeliaran kemana-mana memburu duit. Mereka tidak punya rumah, tidak punya istri, tidak punya anak, tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah tertawa, tidak pernah menangis, tidak pernah marah, tidak pernah kecewa, tidak pernah sedih, tidak pernah sakit, dan tidak pernah merasa sakit. Mereka tidak punya kesenian, tidak punya kebudayaan, dan sebagainya. Mereka punya bahasa. Tapi, bahasa mereka bahasa yang aneh seperti yang sering muncul di teve-teve: “Haiya, Oe…”. Pendek kata, mereka berbeda dari manusia biasa, mereka tidak mempunyai sifat-sifat manusiawi seperti manusia lain, mereka bukan manusia. Orang tionghoa dipersepsi benar-benar hanya sebagai orang dagang, binatang atau robot uang, bukan manusia.

Karena persepsi yang demikian, tidak mengherankan jika orang Tionghoa di Indonesia dianggap dapat diperlakukan secara tidak manusiawi. Membunuh dan menganiaya orang Tionghoa dalam berbagai kerusuhan bukanlah membunuh dan menganiaya manusia yang punya rasa sakit dan bisa merasa sakit, menghina orang Tionghoa di Indonesia tidak sama dengan menghina sesama manusia karena orang Tionghoa dianggap hanya orang dagang, tidak pernah merasa kesal, kecewa, dan tersinggung.

Persepsi streotipikal yang demikian tertanam dengan kuat, seakan tak pernah goyah, kalau tidak dapat dikatakan justru semakin kuat. Beberapa kemungkinan faktor penyebabnya adalah sebagai berikut.

Pertama, sebagaimana kelompok minoritas yang lain, orang-orang Tionghoa di Indonesia tidak pernah berani mengutarakan pendapat mereka secara terbuka, tidak pernah berani mengutarakan ketidaksetujuan, ketidaksukaan, dan penolakan mereka terhadap segala pandangan dan sikap orang lain terhadap mereka. Dalam pengertian demikian, orang Tionghoa cenderung dipandang tidak ada dan orang dapat semaunya setidaknya berbicara mengenai mereka. Di dalam sebuah mailinglist yang menyangkut ketionghoaan saya pernah protes betapa peserta mailinglist menggunakan bahasa Tionghoa streotipikal sebagai bahasa komunikasinya. Mungkin maksudnya membuat mailinglist itu khas, tetapi bahasa yang digunakan itu benar-benar streotipikal yang naif, yang tidak pernah akan ditemukan dalam komunikasi yang nyata orang-orang Tionghoa di Indonesia. Apa orang-orang Tionghoa yang terlibat dalam mailinglist itu nggak tersinggung? Kenapa mereka tidak berpikir demikian?

Kedua, setidaknya sejak Orde Baru tidak hanya kegiatan orang Tionghoa dibatasi hanya pada lapangan perdagangan, tapi juga seluruh citra diri mereka. Tidak ada cerita lain mengenai orang Tionghoa selain sebagai pedagang. Di televisi memang banjir sinetron-sinetron dari Hongkong, tetapi itu bukan tentang orang Tionghoa di Indonesia. Itu dunia lain yang tidak ada hubungannya dengan relasi keseharian orang Tionghoa di Indonesia. Akhir-akhir ini juga terjadi demam wajah Tionghoa sebagai pengaruh mode tubuh Jepang. Banyak artis berwajah Tionghoa muncul. Namun, cerita-cerita sinetron buatan Indonesia tidak bertutur mengenai kehidupan orang Tionghoa walaupun pemainnya adalah orang-orang berwajah Tionghoa. Cerita-cerita tentang mereka sangat disamarkan dan dikaburkan sehingga yang ditemukan penonton bukanlah cerita tentang orang Tionghoa. Akhirnya, persepsi orang lain tentang orang-orang Tionghoa tetap saja bertahan seperti yang lama, yaitu Orang Dagang dalam pengertian di atas.

Karena tidak ada cerita-cerita yang demikian, tentu orang tidak pernah membayangkan apa yang saya alami dengan tetangga Tionghoa saya akhir-akhir ini. Tetangga saya itu orang Tionghoa yang miskin, yang hidup pas-pasan, yang tinggal berpindah-pindah dari satu rumah kontrakkan ke rumah kontrakkan yang lain, yang lebih murah. Satu hari ia mendapat kecelakaan yang membuat tulang pahanya patah. Karena tidak punya uang, ia tidak berani berobat ke rumah sakit. Ia berobat ke dukun, itu pun dengan bantuan tetangga-tetangganya. Karena berobat ke dukun, dan juga karena kurang gizi, mungkin, penyakitnya semakin lama bukannya semakin sembuh, malahan mengalami komplikasi. Karena terlalu lama tidur di lantai, dalam sakitnya itu, paru-parunya terkena infeksi. Malam minggu tanggal 3 Januari yang lalu ia dipaksa oleh tetangga untuk masuk rumah sakit. Dan sekarang ia berada di ICU. Istri dan lima orang anaknya bingung, cemas, bagaimana membayar rumah sakit itu nantinya.

Cerita demikian pasti tidak pernah dibayangkan oleh orang-orang lain akan terjadi pada orang Tionghoa. Mereka tidak akan membayangkan bahwa orang-orang Tionghoa punya istri dan anak-anak, punya istri dan anak-anak yang bisa menangis, punya keluarga dengan keadaan ekonomi yang berkekurangan. Mereka tidak akan pernah membayangkan hal itu karena memang tidak pernah ada cerita mengenai hal itu. Begitu juga tentunya cerita bahwa orang Tionghoa di Indonesia punya kebudayaan, punya sejarah peradaban, punya sopan-santun, dan punya keringat untuk berjuang hidup, dan sebagainya.

 

***

Pentas Sampek Engtay Teater Koma yang akan diselenggarakan pada tanggal 24—25 Januari 2004 di Yogyakarta kali ini akan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pengembangan cerita-cerita alternatif mengenai orang Tionghoa. Sumbangan itu tidak terutama terletak pada lakonnya aslinya sendiri, melainkan pada adaptasi yang dilakukan Teater Koma di atas.

Sampek Engtay semula ditulis dalam bentuk pantun oleh The T.L. pada tahun 1890. Kemudian ia menjadi lakon drama yang sangat populer di Indonesia. Melalui pementasan ketoprak lakon yang ditulis pada masa kolonial itu akhirnya sampai juga ke masa kita sekarang ini.

Namun, meskipun sudah sangat populer, kontribusinya bagi pengembangan cerita alternatif mengenai orang Tionghoa di Indonesia tidak begitu berarti. Posisi lakon itu sama saja dengan cerita-cerita silat dan film-film Hongkong yang kita kenal sekarang, yaitu bercerita tentang orang-orang Tionghoa di negeri sana. Karena ia tidak bercerita mengenai orang Tionghoa di Indonesia itulah, ia lebih ditempatkan sebagai sebuah dunia lain yang tak ada hubungannya dengan kehidupan keseharian di Indonesia.

Sampek Engtay Teater Koma yang akan dipentaskan di atas berbeda dengan pementasan lakon yang sama oleh ketoprak. Bila Ketoprak cenderung mempertahankan setting cerita aslinya, yaitu cerita mengenai orang Tionghoa di negeri sana, Teater Koma menjadikannya cerita tentang orang Tionghoa di Indonesia sendiri, yaitu di daerah Betawi dan sekitarnya pada masa kolonial dahulu.

Sebenarnya cerita yang tidak steotipikal mengenai orang-orang Tionghoa di Indonesia sangat banyak. Sebagaimana yang antara lain diungkapkan oleh Claudine Salmon, populasi karya-karya novel, cerita pendek, dan drama yang ditulis oleh orang-orang Tionghoa dan mengenai kehidupan mereka sendiri di Indonesia sangat besar, melebihi karya-karya yang ditulis oleh orang-orang Indo-Eropa dan bahkan orang-orang Indonesia sendiri. Pramoedya menerbitkan kembali beberapa novelet Tionghoa itu dalam bukunya Tempo Doeloe. Gramedia menerbitkan kembali puluhan karya-karya serupa. Remy Sylado menulis dengan versinya sendiri cerita yang hampir sama.

Sayangnya, karya-karya itu hanya berisi cerita tentang orang-orang Tionghoa di masa lalu. Tentu nilai historisnya amat besar bagi kita sekarang. Akan tetapi, kontribusi tulisan-tulisan itu terhadap pembaruan persepsi mengenai orang Tionghoa di Indonesia sangat dibatasi oleh jurang waktu yang memisahkan cerita-ceritanya dari kehidupan nyata orang-orang Tionghoa sekarang. Dalam hal demikian, ia dapat berada dalam posisi yang sama dengan cerita-cerita silat dan film-film Hongkong. Ia hanya mengandung cerita-cerita mengenai orang Tionghoa di dunia sana, di dunia yang lain, bukan memperkenalkan dan mengakrabkan pembaca pada keberadaan yang konkret dari kehidupan keseharian orang Tionghoa sekarang, yang sampai sejauh ini hanya dikenal melalui etalase-etalase toko di pasar-pasar, di sepanjang jalan, di mall-mall.

Kelemahan demikian akan berlaku juga bagi Sampek Engtay Teater Koma yang dikemukakan di atas karena ia pun mementaskan cerita tentang orang-orang Tionghoa Indonesia yang hidup jauh di masa lalu. Namun, ia tetap menjadi sebuah permulaan yang baik bagi usaha kita semua untuk membebaskan diri dari pandangan streotipikal mengenai orang-orang Tionghoa sehingga orang-orang Tionghoa di Indonesia akan tampil dengan wajah yang lebih manusiawi dalam persepsi atau kesadaran kita semua. Dengan permulaan serupa ini diharapkan akan bermunculkan karya-karya baru yang dapat bercerita mengenai orang-orang Tionghoa di masa kini, di dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang Tionghoa sebagai manusia yang seutuhnya, yang punya pikiran, pendapat, perasaan, punya rasa cinta, rasa benci, rasa marah, rasa kecewa, dan tentu saja juga rasa sakit.

Media yang paling strategis bagi cerita-cerita serupa itu tentu saja adalah televisi. Sudah saatnya stasiun-stasiun televisi di Indonesia menyiarkan cerita-cerita mengenai orang Tionghoa Indonesia dalam kehidupan keseharian mereka. Dengan cara itu setidaknya tayangan-tayangan iklan yang masih selalu menyiarkan citra streotipikal orang Tionghoa dapat diimbangi.

Konon, karya cerpen Veven Sp. Wardhana yang berjudul Peng Hwa akan disinetronkan. Ini merupakan sebuah kabar yang baik. Namun, menurut saya pribadi, akan sangat baik kalau penulis awal cerita mengenai kenyataan kehidupan sehari-hari orang Tionghoa itu ditulis oleh mereka yang sudah sangat akrab dengan lingkungan itu, yang pikirannya pasti bebas dari pandangan streotipikal di atas, yaitu penulis-penulis Tionghoa sendiri. Sayangnya, keadaan ideal yang demikian tampaknya masih sulit dicapai.

Beberapa waktu yang lalu saya dipesona oleh seorang penulis Tionghoa yang mempunya daya produktivitas dalam menulis novel dengan derajat yang sangat tinggi, yaitu Agnes Jessica. Sayangnya, seperti yang saya duga, karya-karyanya tidak bercerita mengenai kehidupan orang-orang Tionghoa sendiri. Mungkin yang diceritakan atau setidaknya yang mengilhaminya adalah kehidupan orang Tionghoa juga. Hanya saja, kehidupan itu tersamarkan oleh nama dan gambaran kultur lingkungan yang abstrak, universal.

Ketika saya tanya, kenapa ia tidak mencoba menulis cerita tentang orang-orang Tionghoa, jawabannya tidak terlalu mengejutkan saya. Ia takut terperangkap pada SARA. Soal SARA ini memang amat traumatis bagi kelompok minoritas, baik etnis maupun agama. Apalagi, seperti yang terlihat sejak era reformasi, kelompok mayoritas tampak semakin pecemburu, serakah, dan ganas.

Kalau sudah demikian kita benar-benar seperti berada dalam lingkaran setan kekerasan yang sulit diputus. Harus ada martir yang berani melakukan terobosan. Siapa tahu, bayangan buruk hantu SARA itu pun ternyata tidak lebih dari “cerita misteri”, ilusi belaka.

 

*Tulisan ini ditulis menyambut pentas ‘Sampek Engtay’ oleh Teater Koma Yogyakarta, pada tanggal 24—25 Januari 2004.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.